1. Pendahuluan
Media
pembelajaran merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan
penting dalam Kegiatan Belajar Mengajar. Pemanfaatan media seharusnya merupakan
bagian yang harus mendapat perhatian guru / fasilitator dalam setiap kegiatan
pembelajaran. Oleh karena itu guru / fasilitator perlu mempelajari bagaimana
menetapkan media pembelajaran agar dapat mengefektifkan pencapaian tujuan
pembelajaran dalam proses belajar mengajar.
Pada kenyataannya media
pembelajaran masih sering terabaikan dengan berbagai alasan, antara lain:
terbatasnya waktu untuk membuat persiapan mengajar, sulit mencari media yang
tepat, tidak tersedianya biaya, dan lain-lain. Hal ini sebenarnya tidak perlu
terjadi jika setiap guru / fasilitator telah mempunyai pengetahuan dan
ketrampilan mengenai media pembelajaran.
Harapan yang tidak pernah
sirna dan selalu guru tuntut adalah bagaimana bahan pelajaran yang disampaikan
guru dapat dikuasai anak didik secara tuntas. Ini merupakan masalah yang cukup
sulit yang dirasakan oleh guru. Kesulitan itu dikarenakan anak didik bukan
hanya sebagai individu dengan segala keunikannya, tetapi mereka juga sebagai
makhluk sosial dengan latar belakang yang berbeda. Paling sedikit ada tiga
aspek yang membedakan anak didik satu dengan yang lainnya, yaitu aspek
intelektual, psikologis, dan biologis. Ketiga aspek tersebut diakui sebagai
akar permasalahan yang melahirkan bervariasinya sikap dan tingkah laku anak
didik disekolah. Salah satu bentuk media pembelajaran yang akan memudahkan bagi
guru dan siswa dalam proses belajar mengajar adalah E-Learning. Pembelajaran
elektronik atau e-learning telah dimulai pada tahun 1970-an. Berbagai istilah
digunakan untuk mengemukakan pendapat/gagasan tentang pembelajaran elektronik,
antara lain adalah: on-line learning, internet-enabled learning, virtual
learning, atau web-based learning.
Dalam pendidikan
konvensional fungsi e-learning bukan untuk mengganti, melainkan memperkuat
model pembelajaran konvensional. Dalam hal ini fungsi e-learning sebagai
berikut:
a. E-learning
merupakan penyampaian informasi, komunikasi, pendidikan, pelatihan secara
on-line.
b. E-learning
menyediakan seperangkat alat yang dapat memperkaya nilai belajar secara
konvensional (model belajar konvensional, kajian terhadap buku teks, CD-ROM,
dan pelatihan berbasis komputer) sehingga dapat menjawab tantangan perkembangan
globalisasi.
c. E-learning
tidak berarti menggantikan model belajar konvensional di dalam kelas, tetapi
memperkuat model belajar tersebut melalui pengayaan content dan pengembangan
teknologi pendidikan.
Berdasarkan uraian di
atas, penulis Ada beberapa permasalahan yang dapat dibahas dalam perumusan
masalah dari makalah ini, yaitu:
1. Apakah
pengertian media pembelajaran?
2. Bagaimana
fungsi media pembelajaran?
3. Apakah
pengertian pembelajaran elektronik (E-learning)?
4. Bagaimana
fungsi E-Learning sebagai media pembelajaran pada mata pelajaran bahasa
Indonesia?
2. Pembahasan
2.1 Pengertian
Media Pembelajaran
Kata media berasal dari
bahasa Latin medio atau medius. Dalam bahasa Latin, media dimaknai sebagai
antara. Sedangkan dalam bahasa Arab, media adalah perantara atau pengantar
pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Media merupakan bentuk jamak
dari medium, yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Secara
khusus, kata tersebut dapat diartikan sebagai alat komunikasi yang digunakan
untuk membawa informasi dari satu sumber kepada penerima. Dikaitkan dengan
pembelajaran, media dimaknai sebagai alat komunikasi yang digunakan dalam
proses pembelajaran untuk membawa informasi berupa materi ajar dari pengajar
kepada peserta didik sehingga peserta didik menjadi lebih tertarik untuk
mengikuti kegiatan pembelajaran.
Satu hal yang perlu
diingat bahwa peranan media tidak akan terlihat apabila penggunaannya tidak
sejalan dengan isi dan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Secanggih apa
pun media tersebut, tidak dapat dikatakan menunjang pembelajaran apabila
keberadaannya menyimpang dari isi dan tujuan pembelajarannya. Media adalah
segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke
penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat
serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi
(Sadiman,2002:6).
Nana Sudjana (2001:14),
menyatakan bahwa media pengajaran (pembelajaran) adalah bahan, alat, atau
teknik yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar proses
interaksi komunikasi edukasi antara guru dan siswa dapat berlangsung secara tepat
guna dan berdaya guna. Berdasarkan definisi tersebut, media pembelajaran
memiliki manfaat yang besar dalam memudahkan siswa mempelajari materi
pelajaran. Media pembelajaran yang digunakan harus dapat menarik perhatian
siswa pada kegiatan belajar mengajar dan lebih merangsang kegiatan belajar
siswa.
2.2 Fungsi
Media Pembelajaran
Ada dua fungsi utama
media pembelajaran yang perlu kita ketahui.
2.2.1 Fungsi media pembelajaran sebagai alat bantu dalam
pembelajaran
Setiap materi ajar
memiliki tingkat kesukaran yang bervariasi. Pada satu sisi ada materi ajar yang
tidak memerlukan alat bantu, tetapi di lain pihak ada materi ajar yang sangat
memerlukan alat bantu berupa media pembelajaran. Media pembelajaran yang
dimaksud antara lain berupa globe, grafik, gambar, dan sebagainya. Materi ajar
dengan tingkat kesukaran yang tinggi tentu sukar dipahami oleh siswa. Tanpa
bantuan media, maka materi ajar menjadi sukar dicerna dan dipahami oleh setiap
siswa. Hal ini akan semakin terasa apabila materi ajar tersebut abstrak dan
rumit/kompleks. Sebagai alat bantu, media mempunyai fungsi melicinkan jalan
menuju tercapainya tujuan pembelajaran.
Hal ini dilandasi
keyakinan bahwa kegiatan pembelajaran dengan bantuan media mempertinggi
kualitas kegiatan belajar siswa dalam tenggang waktu yang cukup lama. Itu
berarti, kegiatan belajar siswa dengan bantuan media akan menghasilkan proses
dan hasil belajar yang lebih baik daripada tanpa bantuan media.
2.2.2 Fungsi
media pembelajaran sebagai sumber belajar
Media sebagai sumber
belajar. Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai
tempat bahan pembelajaran untuk belajar peserta didik tersebut berasal.
Sumber belajar
dapat dikelompokkan menjadi lima kategori, yaitu manusia, buku perpustakaan,
media massa, alam lingkungan, dan media pendidikan. Media pendidikan, sebagai
salah satu sumber belajar, ikut membantu guru dalam memudahkan tercapainya
pemahaman materi ajar oleh siswa, serta dapat memperkaya wawasan siswa.
Adapun mengapa media
pembelajaran yang tepat dapat membawa keberhasilan belajar dan mengajar di
kelas karena media pembelajaran khususnya media visual memiliki empat fungsi
yaitu:
a. Fungsi
atensi, yaitu dapat menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk
berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang
ditampilkan atau menyertai teks materi dan pelajaran.
b. Fungsi
afektif, yaitu dapat menggugah emosi dan sikap siswa.
c. Fungsi
kognitif, yaitu memperlancar tujuan untuk memahami dan mengingat informasi/pesan
yang terkandung dalam gambar.
d. Fungsi
compensations, yaitu dapat mengakomodasikan siswa yang lemah dan lambat
menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau secara
verbal.
Alasan-alasan mengapa
media pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa yaitu:
a. Alasan
yang pertama yaitu berkenaan dengan menfaat media pengajaran itu sendiri,
antara lain:
1) Pengajaran
lebih menarik perhatian siswa, sehingga menumbuhkan motivasi belajar.
2) Bahan
pengajaran lebih jelas maknanya, sehingga dapat menguasai tujuan pembelajaran
dengan baik.
3) Metode
pengajaran akan bervariasi.
4) Siswa
dapat lebih banyak melakukan aktivitas belajar, seperti mengamati, melakukan,
mendemonstrasikan dan lain-lain.
b. Alasan
kedua yaitu sesuai dengan taraf berpikir siswa. Dimulai dari taraf berfikir
konkret menuju abstrak, dimulai dari yang sederhana menuju berfikir yang
kompleks. Sebab dengan adanya media pengajaran hal-hal yang abstrak dapat
dikonkretkan, dan hal-hal yang kompleks dapat disederhanakan.
2.3 Pengertian
E-learning
Istilah e-learning Banyak
para ahli yang mendefinisikan e-learning sesuai sudut pandangnya. Karena
e-learning kepanjangan dari elektronik learning ada yang menafsirkan e-learning
sebagai bentuk pembelajaran yang memanfaatkan teknologi elektronik (radio,
televisi, film, komputer, internet).
Definisi e-learning
merujuk dari buku panduan pembelajaran elektronik (Kemendikbud: 2011) bahawa
e-learning sebagai sembarang pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan
rangkaian elektronik (LAN, WAN, atau internet) untuk menyampaikan isi
pembelajaran, interaksi, atau bimbingan. Dijelaskan pula bahwa istilah “e”
atau singkatan dari elektronik dalam e-learning digunakan sebagai istilah untuk
segala teknologi yang digunakan untuk mendukung usaha-usaha pengajaran lewat
teknologi elektronik internet.
Ada
tiga kriteria dasar yang ada dalam e-learning, yaitu:
a. E-learning
bersifat jaringan, yang membuatnya mampu memperbaiki secara cepat, menyimpan
atau memunculkan kembali, mendistribusikan, dan sharing pembelajaran dan
informasi.
b. E-learning
dikirimkan kepada pengguna melalui komputer dengan menggunakan standar
teknologi internet. CD ROM, Web TV, Web Cell Phones, pagers, dan alat bantu digital
personal lainnya.
c. E-learning
terfokus pada pandangan pembelajaran yang paling luas, solusi pembelajaran yang
mengungguli paradikma tradisional dalam media pembelajaran.
Uraian di atas menunjukan
bahwa sebagai dasar dari
e-learning adalah
pemanfaatan teknologi internet. Jadi e-learning merupakan bentuk pembelajaran
konvensional yang dituangkan dalam format digital melalui teknologi internet.
Oleh karena itu e-learning dapat digunakan dalam sistem pendidikan jarak jauh
dan juga sistem pendidikan konvensional.
2.4 Fungsi
E-Learning Sebagai Media Pembelajaran Bahasa Indonesia
E-learning merupakan
pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk melakukan transfer ilmu
pengetahuan,bukan hanya meliputi online learning, virtual learning, web-based
learning melainkan juga termasuk di dalamnya pembelajaran yang menggunakan
teknologi komputer baik secara online maupun offline.
Terdapat dua model
pengembangan e-learning, yakni synchronous e-learning dan asynchronous
e-learning.
Penggunaan e-learning
sebagai media pembelajaran untuk menunjang pelaksanaan proses belajar Bahasa
Indonesia, diharapkan dapat meningkatkan daya serap dari siswa atas materi yang
diajarkan; meningkatkan partisipasi aktif dari siswa; meningkatkan kemampuan
belajar mandiri siswa; meningkatkan kualitas materi pendidikan dan pelatihan,
meningkatkan kemampuan menampilkan informasi dengan perangkat teknologi
informasi. Dengan perangkat biasa sulit untuk dilakukan; memperluas daya
jangkau proses belajar-mengajar sedangkan menggunakan jaringan komputer,
tidak terbatas pada ruang dan waktu.
Ada beberapa strategi
pengajaran yang dapat diterapkan dengan menggunakan teknologi e-learning
sebagai media pembelajaran pada mata pelajaran bahasa Indonesia
adalah sebagai berikut :
Learning by doing.
Simulasi belajar dengan melakukan apa yang hendak dipelajari; contohnya adalah
Menampilkan sebuah video drama yang akan diperagakan oleh siswa pada
pembelajaran drama
Incidental learning.
Mempelajari sesuatu secara tidak langsung. Tidak semua hal menarik untuk
dipelajari, oleh karena itu dengan strategi ini seorang siswa dapat mempelajari
sesuatu melalui hal lain yang lebih menarik, dan diharapkan informasi yang
sebenarnya dapat diserap secara tidak langsung. Misalnya mempelajari bahasa
daerah di Indonesia dengan cara melakukan “perjalanan maya” ke daerah-daerah
tersebut.
Learning by reflection.
Mempelajari sesuatu dengan mengembangkan ide/gagasan tentang subyek yang hendak
dipelajari. Siswa didorong untuk mengembangkan suatu ide/gagasan dengan cara
memberikan informasi awal dan aplikasi akan “mendengarkan” dan “menyimak”
memproses masukan ide/gagasan dari siswa untuk kemudian diberikan informasi
lanjutan berdasarkan masukan dari siswa. Contoh video tentang
informasi tentang binatang buaya terbesar di dunia,siswa dapat
menulis kembali dalam bentuk sebuah tulisan tentang binatang buaya
tersebut
Case-based learning.
Mempelajari sesuatu berdasarkan kasus-kasus yang telah terjadi mengenai subyek
yang hendak dipelajari. Siswa dapat mempelajari suatu materi dengan cara
menyerap informasi dari nara sumber yang memberi materi tersebut. Contoh
tentang penjelasan mengenai penulisan puisi.
Learning by exploring.
Mempelajari sesuatu dengan cara melakukan eksplorasi terhadap subyek yang
hendak dipelajari didorong untuk memahami suatu materi dengan cara melakukan
eksplorasi mandiri atas materi tersebut. Siswa diposisikan dalam sebagai
seseorang yang harus mencapai tujuan/sasaran dan aplikasi menyediakan fasilitas
yang diperlukan dalam melakukan hal tersebut. Siswa kemudian menyusun strategi
mandiri untuk mencapai tujuan tersebut. Misalkan video cerita tentang
seorang tokoh, siswa mengekpresikan karakter tokoh tersebut.
Faktor yang menjadi
pertimbangan penggunaan pembelajaran elektronik sebagai media
pembelajaran bahasa Indonesia sebagai berikut
a. Relevansi
pengadaan media pendidikan edukatif
b. Kelayakan
pengadaan media pendidikan edukatif
c. Kemudahan
pengadaan media pendidikan edukatif
Media pembelajaran
elektronik dipilih berdasarkan tujuan instruksional yang telah ditetapkan
baik dari segi kognitif, afektif, dan psikomotor. Keterpaduan (validitas).Media
pembelajaran elektronik mendukung isi pelajaran yang sifatnya fakta,
konsep, prinsip atau generalisasi.sebagai media yang terbaik. Sehingga guru
dapat memilih media yang ada, mudah diperoleh dan mudah dibuat sendiri oleh
guru. Media pembelajaran Elektronik dapat digunakan dimanapun dan kapanpun
dengan peralatan yang ada di lingkungan sekitarnya, dan mudah dibawa dan
dipindahkan ke mana-mana. Mutu teknis. Pengembangan visual baik gambar maupun
fotograf dapat memenuhi persyaratan teknis. Media pembelajaran elektronik dapat
digunakan sesuai dengan taraf berfikir siswa. Media pembelajaran elektronik
dapat menunjang dan membantu pemahaman siswa terhadap pelajaran Bahasa
Indonesia sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar dan sesuai
dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
3. Penutup
Media merupakan suatu
perantara (alat) untuk mencapai tujuan pembelajaran. Penggunaan media yang
tepat dapat menunjang keberhasilan dalam proses pembelajaran. Hal ini akan
lebih mempermudah bagi guru dan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran.
E-learning merupakan
bentuk pembelajaran konvensional yang dituangkan dalam format digital melalui
teknologi Visual dan internet. Oleh karena itu e-learning dapat digunakan dalam
sistem pendidikan jarak jauh dan juga sistem pendidikan konvensional.Dan
guru dapat memilih media pembelajaran elektronik dengan bahan
pembelajaran bahasa Indonesia yang sesuai sehingga tujuan pembelajaran
tersebut dapat dicapai dengan baik dan lancar.
MENGGAGAS
MODEL PEMBELAJARAN
MELALUI INTERNET
Seiring dengan perkembangan zaman yang
demikian pesat, bagaimanapun juga, model pembelajaran, mau tidak mau, harus
diperbarui. Demikian ini karena perkembangan zaman yang terus menerus terjadi.
Sejak ditemukannya komputer, maka terjadilah perubahan dahsyat yang mengubah
sendi-sendi kehidupan manusia. Pelan tapi pasti, perubahan ini pun kian menjadi
ketika masuk dengan apa yang disebut dengan era globailisasi. Komputerisasi dan
globalisasi adalah dua hal yang berkolaborasi. Darinya, lahirlah internet yang
sekarang kita kenal tersebut.
Memang, pada abad 21 ini terjadi suatu
keadaan yang sering disebut era globalisasi yang ditandai oleh banyaknya
perubahan pada semua aspek kehidupan, bukan hanya perubahan pada bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi, tetapi juga dalam bidang ekonomi, sosial, budaya,
politik, dan termasuk bidang pendidikan. Saat ini dan di masa mendatang, pengaruh
era globalisasi akan semakin terasa terutama dengan semakin banyaknya saluran
informasi yang tersedia seperti; surat kabar, majalah, radio, televisi,
telepon, faximili, komputer, internet, satelit komunikasi, sekolah, bahkan
informasi langsung yang dibawa oleh pengunjung (travelers). Jurnal Falasifa
Vol. 2 No. 2 September 2011
98
Semua
itu dimungkinkan dengan adanya perkembang-an yang pesat dalam bidang teknologi,
terutama teknologi komunikasi, informasi dan transportasi. Dampak era
globalisasi ini menuntut manusia untuk dapat mempertahankan hidupnya (human
survival), artinya manusia harus mampu mengendalikan dan memanfaatkan
efek-efek globalisasi dalam kehidupannya, Manusia adalah pencipta globalisasi,
dan manusia itu pula yang harus dapat mengendalikan, menguasai, memanfaatkan,
dan mengembangkan globalisasi untuk kepentingan kehidupannya.
Berkembangnya ilmu pengetahuan dan
teknologi pada era globalisasi, terutama teknologi informasi dan komunikasi,
telah menyebabkan dunia ini semakin mengecil dan membentuk seperti sebuah desa
dunia. Batas-batas fisik negara satu dengan negara lainnya menjadi begitu
kurang nampak dan secara non-fisik hampir tanpa batas {borderless). Globalisasi
terjadi sebagai suatu proses mendunia yang tidak tertahankan dan tidak mungkin
terelakan. Dengan demikian diperlukan upaya-upaya untuk mempersiapkan para
siswa sejak dini guna memasuki zaman global yang menuntut kemampuan-kemampuan
khusus.
Para siswa sekarang yang sedang menuntut
ilmu, pada dasarnya akan menjadi pelaku-pelaku utama pada zaman yang penuh
dengan persaingan. Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban para guru untuk
memberi bekal kepada mereka agar bisa hidup (survive) di masa itu. Salah satu
upaya untuk mempersiapkan siswa memasuki zaman global tersebut yaitu dengan
mengembangkan berbagai pendekatan pembelajaran yang berorientasi ke masa depan.
2
2 Nina W. Syam, Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam
Dunia Pendidikan, 2004, Makalah, tidak diterbitkan, 23.
3 Haughey, 1998
Model-Model Pembelajaran Internet
Ada tiga bentuk sistem pembelajaran melalui
internet yang layak dipertimbangkan sebagai dasar pengembangan sistem
pembelajaran dengan mendayagunakan internet, yaitu: (1) Web Course, (2) Web
Centric Course, dan (3) Web Enhanced Course 3
1. Web Cource
Web Course adalah penggunaan internet untuk keperluan pembelajaran di
mana seluruh kegiatan belajar sepenuhnya disampaikan melalui internet.
Dengan kata lain, Web course adalah penggunaan
internet untuk keperluan pembelajaran, di mana seluruh bagian bahan belajar,
diskusi, konsultasi, penugasan, latihan dan ujian sepenuhnya disampaikan
melalui M. Nafiur Rofiq, Menggagas Model Pembelajaran Melalui Internet
99
internet.
Siswa dan guru sepenuhnya terpisah, namun hubungan atau komunikasi antara
peserta didik dengan pengajar bisa dilakukan setiap saat. Komunikasi lebih
banyak dilakukan secara ansynchronous daripada secara synchronous.
Bentuk web course ini tidak memerlukan adanya kegiatan tatap muka baik untuk
keperluan pembelajaran maupun evaluasi dan ujian, karena semua proses
pembelajaran sepenuhnya menggunakan fasilitas internet seperti email, chat
rooms, bulletin board dan online conference.
Selain itu sistem ini biasanya juga dilengkapi
dengan berbagai sumber belajar (digital), baik yang dikembangkan sendiri maupun
dengan menggunakan berbagai sumber belajar dengan jalan membuat hubungan (link)
ke berbagai sumber belajar yang sudah tersedia pada internet, seperti data
base statistic berita dan informasi, e-book, perpustakaan elektronik dan
lain-lain.
Bentuk pembelajaran model ini biasanya
digunakan untuk keperluan pendidikan jarak jauh (distance
education/learning). Aplikasi bentuk ini antara lain virtual
campus/university ataupun lembaga pelatihan yang menyelenggarakan
pelatihan-pelatihan yang bisa diikuti secara jarak jauh dan setelah lulus ujian
akan diberikan sertifikat. 4
4 Oos Anwar, Internet: Peluang dan Tantangan Pendidkan
Nasional Jurnal Teknodik, (Jakarta: Pusat Teknologi Komunikasi dan Inforasi
Pendidikan Depdiknas, 2003), 78
2. Web Centric Course
Web Centric Course adalah sebagian bahan
belajar, diskusi, konsultasi, dan latihan disampaikan melalui internet,
sedangkan ujian dan sebagaian kegiatan lain disampaikan secara tatap muka.
Sebagian bahan belajar, diskusi,
konsultasi, penugasan, dan latihan disampaikan melalui internet, sedangkan
ujian dan sebagian konsultasi, diskusi dan latihan dilakukan secara tatap muka,
walaupun dalam proses belajarnya sebagaian dilakukan dengan tatap muka yang
biasanya berupa tutorial, tetapi prosentase tatap muka tetap lebih kecil
dibandingkan dengan prosentase proses pembelajaran melalui internet.
Bentuk ini memberikan makna bahwa kegiatan
belajar bergeser kegiatan di kelas menjadi kegiatan melalui internet sama
dengan bentuk web course, siswa dan guru sepenuhnya terpisah tetapi pada
waktu-waktu yang telah ditetapkan mereka bertatap muka, baik di sekolah maupun
ditempat-tempat yang telah ditentukan seperti di ruang perpustakaan, taman bacaan,
ataupun di balai pertemuan.
Penerapan bentuk ini sebagaimana yang telah
dilakukan pada perguruan tinggi-perguruan tinggi terkemuka yang menggunakan
sistem belajar secara of campus. Jurnal Falasifa Vol. 2 No. 2 September 2011
100
3. Web
Enhanced Course
Web Enhanced Course adalah pemanfaatan
internet untuk pendidikan yang menunjang peningkatan kualitas kegiatan
pembelajaran di kelas, sehingga pembelajaran utamanya tatap muka di kelas.
Web Enhanced Course merupakan pemanfaatan
internet untuk pendidikan, untuk menunjang peningkatan kualitas belajar
mengajar di kelas. Bentuk ini juga dikenal dengan nama web lite course, karena
kegiatan pembelajaran utama adalah tatap muka di kelas.
Peranan internet disini adalah untuk
menyediakan sumber-sumber belajar yang sangat kaya akan informasi dengan cara
memberikan alamat-alamat atau membuat link ke pelbagai sumber belajar yang
sesuai dan bisa diakses secara online, untuk meningkatkan kuantitas dan
memperluas kesempatan berkomunikasi antara pengajar dengan peserta didik secara
timbal balik. Dialog atau komunikasi dua arah tersebut dimaksudkan untuk
keperluan berdiskusi, berkonsultasi, maupun untuk bekerja secara kelompok.5
5 Probowono, Internet untuk Dunia Pendidikan, makalah,
Bandung, Institut Teknologi Bandung, 1996, 15.
Berbeda dengan kedua bentuk sebelumnya,
pada bentuk web enhanced course ini prosentase pembelajaran melalui internet
justru lebih sedikit dibandingkan dengan prosentase pembelajaran secara tatap
muka, karena penggunaan internet adalah hanya untuk mendukung kegiatan
pembelajaran secara tatap muka.
Bentuk ini dapat pula dikatakan sebagai
langkah awal bagi intitusi pendidikan yang akan menyelenggarakan pembelajaran
berbasis teknologi informasi, sebelum menyelenggarakan pembelajaran dengan
internet secara lebih kompleks, seperti web centric course atau pun web
course.
Baik pada model ataupun web course, web
centric course ataupun web enhanced course, terdapat beberapa
komponen aktivitas seperti informasi, bahan belajar, pembelajaran ataupun
komunikasi, penilaian yang bervariasi. Secara umum komponen aktivitas dan
strukturnya dapat diterapkan dalam pengembangan pembelajaran melalui internet.
Pengembangan Model Pembelajaran melalui
Internet
Pengembangan sistem pembelajaran berbasis
internet, terlebih dahulu perlu dilakukan pengkajian atas seluruh unsur dan
aspek sebagaimana telah diuraikan di atas, sehingga bisa didapatkan pegangan
sebagai bahan pengambilan keputusan dalam pengembangan sistem pembelajaran
berbasis internet. Di samping itu juga diperlukan pertimbangan dan penilaian
atas beberapa hal yang tidak kalah pentingnya antara lain: M. Nafiur Rofiq, Menggagas
Model Pembelajaran Melalui Internet
101
1.
Keuntungan. Sejauhmana sistem pembelajaran berbasis internet akan memberikan
keuntungan bagi intitusi, staf pengajar, pengelola, dan terutama keuntungan
yang akan diperoleh siswa dalam meningkatkan kualitas mereka apabila
dibandingkan dengan penyelenggaraan pembelajaran tatap muka secara konvensional
2. Biaya pengembangan infrastruktur serta
pengadaan peralatan software
3. Biaya yang diperlukan untuk
mengembangkan infrastruktur, mengadakan peralatan serta sofware tidaklah
sedikit. Untuk itu perlu dipertimbangkan hal-hal seperti, apakah akan membangun
suatu jaringan secara penuh ataukah secara bertahap, apakah akan mengadakan
peralatan yang sama sekali baru ataukah meng-upgrade yang sudah ada atau
scound. Mesti diperhatikan bahwa sofwere yang asli bukan bajakan harganya
relatif mahal. Untuk itu dipertimbangkan kemampuan menyediakan dana dalam
setiap pengambilan keputusan.
4. Biaya operasional dan perawatan.
Suatu sistem akan berhjalan apabila dikelola secara baik. Dengan demikian,
sistem pembelajaran berbasis internet ini, juga diperlukan biaya operasional
dan perawatan yang tentunya tidak sedikit. Biaya operasional, honor
pengelolaan, biaya langganan ISP (Internet Service Provider), biaya langganan
saluran telepon tersendiri dan biaya pulsa telepon apabila berkeinginan
menggunakan dial-up. Sedangkan biaya perawatan termasuk penggantian suku cadang
yang mengalami kerusakan baik karena umur maupun kesalahan prosedur pemakaian.
Untuk menanggulangi biaya 'operasional dan perawatan tersebut, dapat dilakukan
dengan mendayagunakan sistem tersebut agar mampu menghasilkan uang (income
generating), antara lain dengan membuka warnet untuk umum, mengadakan
pelatihan-pelatihan dan lain-lain.
5. Sumberdaya manusia. Untuk mengembangkan
dan mengelola jaringan dan sistem pembelajaran, diperlukan sejumlah sumberdaya
manusia yang memiliki kompetensi dan integritas yang tinggi. Dalam hal ini
termasuk guru-guru yang harus memahami prinsip-prinsip pembelajaran melalui
internet. Untuk keperluan itu hendaknya dilakukan identifikasi dan kemudian
dipersiapkan tenaga-tenaga tersebut, apakah bisa dicukupi dari dalam ataukah
harus merekrut tenaga-tenaga barn. Untuk membekali tenaga-tenaga tersebut perlu
diberikan pelatihan, diperhitungkan lama waktu pelatihan, tempat Jurnal
Falasifa Vol. 2 No. 2 September 2011
102
pelatihan,
cara pelatihan agar bisa menfhasilkan tenaga yang memiliki kualifikasi.
6. Siswa. Yang tidak kalah pentingnya untuk
diperhatikan adalah mengetahui sejauhmana kesiapan siswa dalam mengikuti
kegiatan pembelajaran dengan menggunakan internet yang akan diselenggarakan.
Kalau internet merupakan sesuatu yang baru bagi sebagian besar siswa, tentunya
perlu dilakukan serangkaian upaya untuk mengkondisikan agar mereka siap
berpartisipasi secara aktif dalam sistim pembelajaran yang baru tersebut.
Adalah hal yang tidak mudah untuk merubah kebiasaan mereka yang telah terbiasa
belajar secara tatap muka secara konvensional selama bertahun-tahun, yang
tentunya telah menjadi gaya belajar atau kebiasaan yang sudak mendarah daging.
6
6 Rivalina Rahmi, Pola Pencarian Informasi di Internet,
Jurnal Teknodik Jakarta, Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan,
Depdiknas, 2004), 10-12.
Berdasarkan kajian dan pertimbangan
sebagaimana telah dibahas di atas, kemudian sistim pembelajaran internet
dikembangkan melalui tiga cara pengembangan yaitu:
1. Menggunakan sepenuhnya fasilitas internet
yang telah ada, seperti e-mail, IRC (Internet Relay Chat), word wide web,
seach engine, millis (milling list) dan FTP (File Transfer Protocol).
2. Menggunakan sofware pengembang program
pembelajaran dengan internet yang dikenal dengan Web-Course Tools, yang
di anataranya bisa didapatkan secara gratis ataupun bisa juga dengan
membelinya. Ada beberapa vendor yang mengem-bangkan Web Course Tools seperti
WebCT, Web fuse, TopClass dan lain-lain.
3. Mengembangkan sendiri program
pembelajaran sesuai dengan kebutuhan (tailor made), dengan menggunakan
bahasa ''pemrograman seperti ASP (Active Server Pages) dan lain-lain.
Setiap cara memeliki kelebihan dan
kekurangan, misalnya pengembangan program pembelajaran dengan menggunakan
fasilitas internet mempunyai kelebihan biayanya sangat murah dibandingkan yang
lain, namun ada kekurangan yaitu dalam pengelolaan aga ksulit karena sifatnya
tidak terintegrasi. Sedangkan apabila menggunakan Web Course Tools atau
pengembangan secara taillor-made biayanya jauh lebih mahal, namun memiliki
kelebihannya yakni mudah dalam pengembangan dan pengelo-lalaannya, lebih power
full, dan sesuai dengan kebutuhan.
Untuk memilih salah satu cara yang akan
dipakai, ditentukan pada pertimbangan berdasarkan kajian terhadap berbagai hal
seperti yang M. Nafiur Rofiq, Menggagas Model Pembelajaran Melalui Internet
103
telah
dibahas dibagian terdahulu tadi. Namun pada dasarnya mendayagunakan internet
untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan adalah hal yang sangat layak
untuk segera dilaksanakan secara luas di institusi-institusi penyelenggara
pendidikan di Indonesia. 7
7 Rivalina Rahmi, Pola
Pencarian Informasi di Internet, 18-22
Aplikasi Pembelajaran melalui Teknologi
Informasi
Dalam proses pembelajaran, aplikasi e-learning
bisa mencakup aspek perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
Perencanaan pembelajaran pada dasarnya
merupakan gambaran rencana (skenario) yang memproyeksikan mengenai beberapa
aktivitas dan tindakan yang akan dilakukan pada saat berlangsungnya proses
pembelajaran. Dengan demikian aplikasi perencanaan pembelajaran yang berbasis e-learning
pada dasarnya memuat rencana, perkiraan dan gambaran umum kegiatan
pembelajaran dengan memanfaatkan jaringan komputer, baik intra-net maupun
internet. Pada prinsipnya dalam peren-canaan pembelajaran terdapat empat
komponen utama, yaitu: materi/bahan ajar, kegiatan belajar mengajar, dan
evaluasi.
Komponen tujuan berfungsi untuk menentukan
arah kegiatan pembelajaran. Dari rumusan tujuan pembelajaran harus sudah
terproyeksikan bagaimana proses berlangsungnya pembelajaran serta kemampuan-kemampuan
yang harus dimiliki siswa sebagai hasil belajar. Rumusan tujuan pembelajaran
tidak hanya menggambarkan hasil, tetapi juga menggambarkan kegiatan atau
proses.
Penetapan bahan ajar yang akan berfungsi
untuk memberi makna terhadap upaya pencapaian tujuan. Dalam pembelajaran
konvensional, bahan ajar untuk setiap mata pelajaran sudah tersedia dalam buku
paket, dan secara tatap muka disampaikan oleh guru dengan menggunakan metode
pembelajaran yang dipilihnya. Sedangkan bahan ajar untuk e-learning, selain
para dapat memanfaatkan buku sumber yang tersedia, juga dapat secara langsung
mengakses bahan ajar/informasi pada beberapa halaman web yang telah dibuat
sebelumnya. Dengan demikian perolehan informasi pembelajaran akan bersifat
lebih luas, mendalam, dan bervariasi.
Kegiatan belajar mengajar yang tercakup
dalam perencanaan pembelajaran pada intinya berisi mengenai deskripsi
materi/bahan ajar, metode pembelajaran, dan alat/media pembelajaran. Untuk
kepentingan media pembelajaran berbasis e-learning, penentuan bahan ajar hanya
memuat pokok-pokoknya saja, sementara deskripsi lengkap dari pokok-pokok bahan
ajar disediakan dalam halaman web yang akan diakses siswa.
Evaluasi sebagai komponen terakhir dalam
perecanaan pembelajaran berfungsi untuk mengukur sejauhmana tujuan pembelajaran
telah tercapai Jurnal Falasifa Vol. 2 No. 2 September 2011
104
dan
tindakan apa yang harus dilakukan apabila tujuan tersebut belum tercapai.
Melalui pendekatan pembelajaran berbasis e-learning, kegiatan evaluasi
untuk mengetahui hasil dapat dilakukan secara bervariasi, setiap siswa dapat
melihat dan mengikuti suruhansuruhan di halaman web. Bisa berupa pertanyaan,
tugas-tugas, dan atau latihan-latihan yang harus dikerjakan siswa.
Dalam implementasi pembelajaran, terdapat
model penerap-an e-learning yang bisa digunakan, yaitu: Selective Model,
Sequential Model, Static Station Model, dan Laboratory Model. Adapun
penjelasannya sebagaimana berikut:
1. Selective Model
Model selektif ini digunakan jika jumlah
komputer di sekolah sangat terbatas (misalnya hanya ada satu unit komputer). Di
dalam model ini, guru harus memilih salah satu alat atau media yang tersedia
yang dirasakan tepat untuk menyampaikan bahan pelajaran. Jika guru menemukan
bahan e-learning yang bermutu dari internet, maka dengan terpaksa guru hanya
dapat menunjukan bahan pelajaran tersebut kepada siswa sebagai bahan
demonstrasi saja. Jika terdapat lebih dari satu komputer di sekolah/kelas, maka
siswa harus diberi kesempatan untuk memperoleh pengalaman langsung.
2. Sequential Model
Model ini digunakan jika jumlah komputer di
sekolah/kelas terbatas (misalnya hanya dua atau tiga unit komputer). Para siswa
dalam kelompok kecil secara bergiliran menggunakan komputer untuk mencari
sumber pelajaran yang dibutuhkan. Siswa menggunakan bahan e-learning sebagai
bahan rujukan atau untuk mencari informasi baru.
3. Static Station Model
Model ini digunakan jika jumlah komputer di
sekolah/kelas terbatas, sebagaimana halnya dalam sequential model. Di dalam
model ini, guru mempunyai beberapa sumber belajar yang berbeda untuk mencapai
tujuan pembelajaran yang sama. Bahan e-learning digunakan oleh satu atau
dua kelompok siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Kelompok siswa lainnya menggunakan sumber belajar yang lain untuk mencapai
tujuan pembelajaran yang sama.
4. Laboratory Model
Model ini digunakan jika tersedia sejumlah
komputer di sekolah/laboratorium yang dilengkapi dengan jaringan internet, di
mana M. Nafiur Rofiq, Menggagas Model Pembelajaran Melalui Internet
105
siswa
dapat menggunakannya secara lebih leluasa (satu siswa satu komputer). Dalam hal
ini, bahan e-learning dapat digunakan oleh seluruh siswa sebagai bahan
pembelajaran mandiri.
Setiap model e-learning yang dapat
digunakan dalam pembelajaran di atas masing-masing mempunyai kekuatan dan
kelemahan. Pemilihannya bergantung kepada infrastruktur telekomunikasi dan
peralatan yang tersedia di sekolah. Bagaimanapun upaya pembelajaran dengan
pendekatan e-learning ini perlu terus dicoba dalam rangka mengatasi
permasalahan-permasalahan yang dihadapi di masa yang akan datang.
Penutup
Model pembelajaran melalui internet yang
layak dipertimbangkan sebagai dasar pertimbangan sistem pembelajaran dengan
menggunakan internet adalah web course, web centric course dan web enhanced
course. Masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan bergantung dari
sudut mana kebutuhan itu dapat dipenuhi.
Hal itu menjadi pertimbangan untuk diambil
sebuah keputusan tentang pengembangan pembelajaran melalui internet, seperti keuntungan
bagi intitusi, biaya operasional dan perawatan serta pengembangan
inprastruktur, sumberdaya manusia yang memiliki kompetensi dan integritas yang
tinggi serta yang tak kalahpentingnya kesiapan siswa yang akan mengikuti
kegiatan pembelajaran dengan internet.
Berdasarkan kajian dan pertimbangan
selanjutnya pengembangan sistem pembelajaran dapat dilakukan melalui sepenuhnya
fasilitas internet yang telah ada, software pengembang program pembelajaran
dengan internet web course tools, dan pengembangan sendiri program
pembelajaran. Masing-masing cara dapat dipilih bergantung model apa yang akan
dipakai dalam implementasi pembelajaran melalui internet. Model yang dimaksud
bisa dipilih selective model, squential model, atatic station model dan
laboratory model. Jurnal Falasifa Vol. 2 No. 2 September 2011
106